| Terbit Sabtu, 13 Agustus 2022 | Diperbaharui 2022-08-12T18:55:19Z |
Optimisme Hidup
Bob Butler kehilangan kedua kakinya pada tahun 1965 akibat ledakan ranjau di Vietnam. Dia kembali ke negerinya sebagai pahlawan perang. Dua puluh tahun kemudian, sekali lagi dia membuktikan kepahlawanan yang murni berasal dari lubuk hatinya.
Butler sedang bekerja di garasi rumahnya di sebuah kota kecil di Arizona pada suatu hari di musim panas dimana ketika dia mendengar jeritan seorang anak perempuan dari salah satu rumah tetangganya. Dia menggelindingkan kursi rodanya ke rumah itu, tetapi semak-semak yang tinggi di rumah itu tidak memungkinkan kursi rodanya mencapai pintu belakang. Maka veteran itu keluar dari kursinya dan merangkak tanpa peduli debu dan semak yang harus dilewatinya.
"Aku harus sampai ke sana," ucapnya dalam hati. "Tak peduli bagaimanapun sulitnya."
Ketika Butler tiba disana, dia menyadari bahwa jeritan itu datang dari arah kolam. Disana seorang anak perempuan berusia kira-kira tiga tahun sedang tenggelam di dalamnya. Anak itu lahir tanpa lengan, sehingga ketika dia jatuh ke dalam kolam anak balita itu tidak dapat berenang. Sang ibu yang lalai yang juga baru tiba hanya bisa berdiri mematung sambil menangisi putri kecilnya. Butler langsung menceburkan diri dan menyelam ke dalam dasar kolam lalu membawanya naik. Wajah anak bernama Stephanie itu sudah membiru, denyut nadinya tidak terasa dan anak itu tidak benafas.
Butler segera berusaha melakukan pernafasan buatan sementara ibunya menghubungi pemadam kebakaran melalui telepon. Ia diberitahu bahwa petugas kesehatan kebetulan sedang bertugas di tempat lain. Kaeena putus asa, si ibu itu histeris penuh isak tangis.
Sementara terus melakukan pernafasan buatan, Butler dengan tenang meyakinkan sang ibu bahwa Stephanie akan selamat. "Jangan cemas," katanya. "Saya menjadi tangannya untuk keluar dari kolam itu. Ia akan baik-baik saja. Sekarang saya akan menjadi paru-parunya. Bila bersama-sama Kita pasti bisa."
Beberapa saat kemudian anak kecil itu mulai terbatuk-batuk, sadar kembali dan mulai menangis. Ketika mereka saling berpelukan dan bergembira bersama-sama, sang ibu bertanya kepada Butler tentang bagaimana dia yakin bahwa anaknya akan selamat.
"Ketika kaki saya remuk terkena ledakan di Vietnam, saya sedang sendirian di sebuah ladang," ceritanya kepada perempuan itu. "Tidak Ada orang lain di sekitar situ yang bisa menolong kecuali seorang gadis Vietnam yang masih kecil. Sambil berjuang menyeretnya ke desa, gadis itu berbisik dalam bahasa Inggris yang patah-patah, "Tidak apa-apa. Anda akan hidup. Saya akan menjadi kaki Anda. Bersama-sama kita pasti bisa."
"Ini kesempatan bagi saya untuk membalas yang pernah saya terima!" katanya kepada ibu Stephanie.(***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar